18. Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri. Seseorang dapat menunjukkan kesalahan orang lain seperti menampi dedak, tetapi ia menyernbunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri seperti penjudi licik menyernbunyikan dadu yang berangka buruk.
Mudah hidup bagi orang yang tak punya rasa malu, berani seperti burung gagak, gemar mencela, lancang, sombong, dan rusak akhlaknya.

Catatan Mendalam

Buddha membabarkan bait ini di Vihara Jetavana mengenai seorang bhikkhu bernama Culla Sariputta. Saat melayani orang sakit, bhikkhu tersebut menerima makanan bergizi tinggi. Dalam perjalanan, ia bertemu seorang sesepuh dan menawarkan makanan itu dengan sopan. Sang sesepuh hanya diam dan berlalu tanpa menjawab. Ketika para bhikkhu lain melaporkan kejadian ini kepada Buddha, Beliau menjelaskan bahwa mereka yang tidak tahu malu, berani, dan tidak sopan akan merasa hidup ini mudah, sementara mereka yang jujur, cermat, dan takut akan kesalahan sekecil apa pun akan merasa hidup ini lebih menuntut. Bait ini membedakan dua jalan hidup: yang satu penuh dengan ketidakmaluan, arogansi, dan korupsi moral—yang disebut Buddha sebagai 'mudah' karena tidak memerlukan pengendalian diri—dan yang lain penuh dengan kerendahan hati, kemurnian, dan kepatuhan pada disiplin. Perilaku sesepuh dalam cerita itu—mengabaikan kebaikan tanpa apresiasi—menunjukkan kurangnya tata krama. Kemuliaan sejati ditemukan dalam pengendalian diri dan kerendahan hati yang tidak dimiliki oleh mereka yang hidup serampangan.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 244. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?