1. Bila orang mencintai dirinya sendiri, maka ia harus menjaga dirinya dengan baik. Orang bijaksana selalu waspada selama tiga masa (dalam kehidupannya).
Melalui banyak kelahiran dalam samsara, Aku telah mengembara dengan sia-sia, mencari pembuat rumah (kehidupan) ini. Kelahiran yang berulang-ulang sungguh merupakan penderitaan! Wahai pembuat rumah, engkau telah terlihat! Engkau tidak akan membangun rumah ini lagi. Karena kasau-kasaumu telah patah dan tiang bumbunganmu telah hancur. Pikiranku telah mencapai Yang Tak Berkondisi; Aku telah mencapai kehancuran nafsu keinginan.

Catatan Mendalam

Dua syair ini (153 & 154) adalah kata-kata pertama yang diucapkan oleh Sang Buddha segera setelah mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, dan Beliau kemudian membagikannya dengan Y.A. Ananda. Syair ini mengungkapkan perjalanan panjang-Nya melalui kehidupan lampau yang tak terhitung jumlahnya dalam Samsara. Berbeda dengan makhluk biasa yang terbawa oleh karma, Sang Buddha secara aktif mencari akar penyebab penderitaan—"pembuat rumah" yang bertanggung jawab atas siklus kelahiran, penuaan, dan kematian. Setelah pencerahan-Nya, Beliau mengidentifikasi pembuat ini sebagai "Nafsu Keinginan" (Tanha). Nafsu keinginan menghasilkan kemelekatan dan keberadaan, menjebak makhluk dalam siklus kehidupan. Dengan mencapai Kebuddhaan, Beliau menghancurkan nafsu keinginan ini. "Kasau" yang melambangkan kekotoran batin dan "tiang bumbungan" berupa ketidaktahuan telah hancur sepenuhnya. Rumah penderitaan tidak akan pernah bisa dibangun lagi. Pikiran-Nya mencapai Nibbana, keadaan Yang Tak Berkondisi, yang melampaui penderitaan samsara selamanya.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 153. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?