7. Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang.
Benar-benar telah usang tubuh ini, sarang penyakit, dan rapuh. Tumpukan kotor ini akan hancur, karena kematian adalah akhir dari kehidupan.

Catatan Mendalam

Sang Buddha mengajarkan syair ini di Hutan Jeta mengenai biksuni tua bernama Uttara. Di usianya yang mencapai seratus dua puluh tahun, ia masih pergi mengumpulkan dana makanan. Selama tiga hari berturut-turut, ia memberikan semua makanan yang diterimanya kepada biksu lain, tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Pada hari keempat, karena lemah oleh usia dan rasa lapar, ia tidak sengaja menginjak jubahnya sendiri dan terjatuh. Sang Buddha menghampirinya dan dengan lembut mengingatkannya bahwa tubuhnya yang menua telah usang dan akan segera binasa. Penuaan adalah proses kemunduran fisik dan mental yang tak terelakkan. Tubuh menjadi rapuh, indria menumpul, dan penyakit berlipat ganda. Terlepas dari penderitaan yang dibawa oleh usia tua, banyak orang masih melekat erat pada kehidupan. Sang Buddha menggambarkan tubuh yang menua sebagai "sarang penyakit" yang rapuh. Karena tubuh hanyalah kumpulan sementara dari elemen-elemen, ia pada akhirnya harus terurai; di mana ada kelahiran, di situ pasti ada kematian. Daripada hidup di masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan, para lansia—dan semua praktisi—seharusnya menggunakan sisa waktu mereka dengan bijak untuk melatih perhatian penuh dan mempraktikkan Dhamma. Karena kematian bisa datang kapan saja, menyadari kerapuhan tubuh merupakan motivasi mendalam untuk dengan tekun mencari pembebasan spiritual.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 148. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?