2. Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh Iuka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak peravvatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.
Di dunia ini jarang ada orang yang menahan diri karena rasa malu (untuk berbuat buruk), yang menghindari celaan seperti kuda yang baik menghindari cambuk.

Catatan Mendalam

Sang Buddha mengajarkan syair ini di Hutan Jeta mengenai Thera Pilotika. Sebelumnya ia adalah seorang pengemis berpakaian compang-camping yang kemudian ditahbiskan oleh Y.A. Ananda. Suatu hari, saat kembali ke pohon tempat ia meninggalkan pakaian lamanya, ia merenung: "Mengapa mencari apa yang sudah hilang? Apa gunanya?" Melalui perenungan mendalam ini, ia mencapai tingkat Arahat. Sang Buddha mengonfirmasi pencapaiannya, menyoroti pentingnya meditasi. Tanpa perenungan, praktik spiritual ibarat memasak tanpa garam. Syair ini juga menekankan dua faktor mental yang bajik: rasa malu berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa). Keduanya membedakan manusia dari hewan dengan mencegah tindakan yang tidak tahu malu dan sembrono. Seseorang dengan hati nurani moral menghentikan pikiran buruk sebelum bermanifestasi menjadi tindakan yang merugikan, menghindari penderitaan layaknya kuda yang baik menghindari cambuk.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 143. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?